Kamis, 14 Juni 2012

Perusahaan Multi Internasional ( Jerman )

Audi Perusahaan (Jerman)
Publik
Industri
Didirikan
Zwickau, Jerman (16 Juli 1909)
Kantor pusat
Kantor pusat: Ingolstadt, Bavaria, Jerman.
Lokasi produksi:
Jerman:
Ingolstadt &
Neckarsulm
Hungaria:
Győr
Belgia:
Brussels
China:
Changchun
India:
Aurangabad
Brasil:
Curitiba
Tokoh penting
Rupert Stadler
Chairman of the Board of Management,
Wolfgang Egger
Kepala Desain
Produksi
▲1,143,902 unit (2010) (hanya Audi)
35,441 miliar (2010)
52,57 miliar dolar AS
(termasuk divisi)
1,850 miliar (2009)
2.74 miliar dolar AS
16,832 miliar (2009)
(25 miliar dolar AS)
3,451 miliar (2009)
5,12 miliar dolar AS
46.372 (2009)
  • Audi do Brasil e Cia (Curitiba, Brasil)
  • Audi Hungaria Motor Kft. (Györ, Hungaria)
  • Audi Senna Ltda. (Brazil)
  • Automobili Lamborghini Holding S.p.A (Sant'Agata Bolognese, Italia)
  • Autogerma S.p.A. (Verona, Italia)
  • quattro GmbH (Neckarsulm, Jerman) 
Audi AG adalah sebuah produsen mobil asal Jerman yang menjual mobil di berbagai macam kelas dan harga. Perusahaan ini dimiliki penuh (99,5%) oleh Grup Volkswagen sejak tahun 1966. Diposisikan sebagai kelas mobil mewah.
Perusahaan ini bermarkas di Ingolstadt, Bavaria, Jerman. Nama perusahaan ini sebenarnya berasal dari nama panggilan pendirinya August Horch, yang mempunyai arti "mendengar" dan jika diterjemahkan ke Bahasa Latin menjadi Audi.
Semboyan Audi adalah Vorsprung durch Technik, yang dapat diartikan "Keunggulan melalui teknologi".
Dengan Volkswagen Group
Pemilik terbesar dari Audi AG adalah Volkswagen AG, yang memiliki 99 persen saham perusahaan ini dari tahun 1966. Belakangan ini, adanya kemungkinan Audi dilepas oleh Volkswagen telah menjadi perdebatan.
Dari tahun 2002 sampai 2007, Audi mengepalai Audi Brand Group, sebuah sub-divisi dari Grup Volkswagen yang terdiri dari Audi, SEAT dan Lamborghini.
 
Sejarah
Lahirnya perusahaan ini beserta namanya

Audi Type E
Tanggal 14 November 1899, August Horch (1868–1951) mendirikan sebuah perusahaan bernama A. Horch & Cie. di distrik Ehrenfeld, Cologne, tapi karena adanya pertengkaran di antara dirinya dan dewan pengawas perusahaan, Horch harus mengundurkan diri. Beberapa tahun kemudian, Horch mendirikan perusahaan kedua bernama Horch Automobil-Werke GmbH tahun 1909. Mobil pertama ciptaan Audi, Audi Tipe A 10 bertenaga 22 hp Sport-Phaeton, diproduksi tahun 1910 di Zwickau.
Tahun 1909 pula, Horch dipaksa keluar dari perusahaan yang ia dirikan sendiri.Lalu ia mendirikan perusahaan baru lagi di Zwickau tapi tetap memakai nama Horch. Partner lamanya menggugat dia karena pelanggaran merk dagang. Mahkamah Agung Jerman (Reichsgericht)akhirnya memutuskan kalau merk Horch dipunyai oleh perusahaanya yang dulu.
August Horch akhirnya dilarang untuk memakai nama keluarga untuk bisnis perusahaan barunya. Ia pun mengadakan pertemuan dengan teman bisnisnya, Paul dan Franz Fikentscher. Di apartemen Franz Fikentscher, mereka mendiskusikan nama apa yang cocok untuk perusahaan baru mereka itu. Ceritanya, selagi pertemuan itu pula, anak laki-laki Franz sedang belajar bahasa Latin di pojok ruangan itu. Beberapa kali ia terlihat ingin mengatakan seseatu tapi ia terus saja belajar sampai akhirnya berkata: "Ayah– audiatur et altera pars... bukankah lebih baik disebut audi saja daripada horch?""Horch!" dalam bahasa Jerman artinya mendengarkan, dan dalam bahasa Latin adalah "Audi".) Segera, ide ini diterima dengan antusias seluruh orang yang ada disitu Mobil pertama Audi, Audi Tipe B, 10/28PS diluncurkan tahun 1910.
August Horch meninggalkan perusahaan ini tahun 1920 karena diangkat menjadi Menteri Transportasi, tapi masih aktif di perusahaan sebagai dewan pengawas. Tahun 1921, Audi menjadi perusahaan otomotif Jerman pertama yang meluncurkan mobilnya dalam versi setir kiri.
 
Era Auto Union
Artikel utama untuk bagian ini adalah: Auto Union
Bulan Agustus 1928, Jørgen Rasmussen, pemilik perusahaan Dampf-Kraft-Wagen (DKW) mengakuisisi sebagian besar saham Audierke AG. Rasmussen juga membeli perusahaan mobil Amerika Rickenbaker, termasuk peralatan pengembangan untuk mesin 8 silinder. Mesin ini digunakan di Audi Zwickau dan Audi Dresden yang diluncurkan 1929. Pada saat yang sama, model dengan mesin 4 silinder dan 6 silinder (yang lisensinya dari Peugeot) juga dibangun. Pada saat itu mobil-mobil Audi merupakan mobil mewah dengan pengerjaan yang khusus.
Tahun 1932, Audi bersama dengan Horch, DKW, dan Wanderer bergabung membentuk Auto Union. Pada periode ini mereka menciptakan Audi Front, mobil Eropa pertama yang menggabungkan mesin 6 silinder dengan penggerak roda depan. Mobil ini menggunakan powertain yang sama dengan Wanderer, tapi diputar 180 derajat, sehingga drive shaftnya terlihat di depan.
Sebelum adanya Perang Dunia II, Auto Union membuat logo Audi berupa cincin 4 buah yang saling menyambung satu sama lain itu, yang masih digunakan sampai sekarang. Pada zaman itu, lambang itu digunakan untuk menandakan bersatunya 4 merek tersebut. Meski begitu, lambang 4 cincin tersebut hanya dipakai di divisi balap saja, sedangkan keempat merek ini menggunakan mereknya masing-masing.
Pada perkembangannya, karena tekanan ekonomi akibat Depresi Besar pada masa itu, perusahaan Auto Union berkonsentrasi pada mobil-mobil kecil di tahun 1930-an, sehingga pada tahun 1938, merk DKW menguasai 17.9% pasar mobil Jerman sedangkan Audi hanya merebut 0.1% pasar saja.
Pasca Perang Dunia II
Seperti perusahaan Jerman kebanyakan, pabrik milik Auto Union juga digunakan untuk keperluan militer Jerman sehingga dijadikan target oleh aliansi sekutu, dan akhirnya pabrik pun hancur.
Diserbu oleh Militer Soviet tahun 1945, pabriknya dibongkar sebagai bagian dari reparasi perang. Selanjutnya, seluruh aset perusahaan diambil alih tanpa kompensasi apapun. Tanggal 17 August 1948, Auto Union AG di Chemnitz dihapus dari registrasi komersial.[Akibat dari aksi ini adalah dilikuidasinya Auto Union AG Jerman. Ini berarti, pabrik Audi di Zwickau menjadi VEB Automobilwerk Zwickau (AWZ) (Indonesia: Perusahaan Mobil Zwickau).
Pabrik Audi yang lama di Zwickau kembali untuk memproduksi mobil tahun 1949. Produk DKW ini dinamai IFA F8 dan IFA F9.
Auto Union Baru
Kanto Pusat Auto Union baru di Jerman Barat didirikan di Ingolstadt, Bavaria dengan pinjaman dari Pemerintah Bavaria dan Marshall Plan. Perusahaan baru ini diluncurkan 3 September 1949 dan melanjutkan tradisi DKW untuk memproduksi mobil berpenggerak mobil depan bermesin 2 tak. Kawasan Ingolstadt adalah kawasan yang besar, termasuk kompleks bangunan militer yang cocok dijadikan kawasan distribusi dan pergudangan. Tapi, pabrik untuk produksinya berada di berada di kawasan Düsseldorf milik perusahaan Rheinmetall-Borsig. Sepuluh tahun kemudian, perusahaan telah bisa mendatangkan investor sehingga konstruksi pabrik di Ingolstadt bisa dibangun.
Setelah Perang Dunia II berakhir, saham Auto Union pernah dibeli sebanyak 87% oleh Daimler-Benz tahun 1958, dan bahkan sampai 100% tahun 1959. Tapi Daimler-Benz tidak memfokuskan diri pada mesin 2 tak sehingga merek ini tidak bisa menghasilkan untung, padahal saat itu pertumbuhan ekonomi sangat pesat.
Tahun 1964, saham Auto Union diambil 50% oleh Volkswagen, beserta dengan pabrik barunya di Ingolstadt dan merek dagang Auto Union. 18 bulan kemudian, Volkswagen telah menguasai penuh pabrik Ingolstadt sehingga pada tahun 1966 mereka menggunakan sebagian fasilitas pabrik itu untuk memproduksi tambahan 60,000 unit Volkswagen Beetle per tahun.[18] Mesin 2 tak semakin tidak populer di tahun 1960-an karena konsumen lebih menyukai mesin 4 tak yang lebih halus. Pada akhirnya, Volkswagen pun tidak lagi menggunakan merk DKW karena asosiasinya dengan mobil bermesin 2 tak. Selanjutnya, model tersebut diberi merk "Audi" dengan nama F103. Pengembangan model setelahnya dinamai sesuai dengan keluaran tenaga mobil tersebut, misalnya Audi 60, 75, 80, dan Super 90.
Perakitan Audi 80 di Wolfsburg pada tahun 1973
Pada tahun 1969, Auto Union bergabung dengan NSU, sebuah perusahaan dari Neckarsulm, dekat Stuttgart. NSU merupakan pabrikan motor terbesar di dunia tahun 1950-an, tapi berpindah untuk memproduksi mobil-mobil kecil seperti NSU Prinz, NSU TT, dan TTS. NSU juga fokus pada mesin rotari yang idenya ditemukan oleh Felix Wankel. Meski begitu, permasalahan pada pengembangan mesin ini akhirnya mengakhiri independensi NSU. Sekarang, pabrik Neckarsulm adalah pabrik untuk memproduksi A6 dan A8; juga menjadi kantor pusat dari quattro GmbH, divisi Audi yang menangani pengembangan dari model-model Audi berkecepatan tinggi.
 
Era Modern
Bergabungnya Auto Union dengan NSU mengubah nama perusahaan menjadi Audi NSU Auto Union AG. Volkswagen memperkenalkan merek Audi ke pasar Amerika Serikat pada tahun 1970.
Mobil pertama yang diciptakan di era ini adalah Audi 100 yang diluncurkan 1968. Kemudian ada juga Audi 80/Fox tahun 1972 (dipakai juga sebagai basis untuk Volkswagen Passat 1973) dan Audi 50 tahun 1974 (nantinya diganti menjadi Volkswagen Polo).

Jörg Bensinger, seorang teknisi chassis,bersedia untuk mengembangkan teknologi 4WD dari mobil militer Volkswagen Iltis ke dalam mobil Audi. Mobil inilah yang nantinya disebut sebagai "Audi Quattro", diperkenalkan 1980. Mobil ini adalah mobil produksi Jerman pertama yang memakai penggerak 4 roda secara permanen. Teknologi 4WD ini akhirnya juga diaplikasikan di generasi pertama Audi S4 dan Audi S6. Mobil-mobil ini berhasil menuai kesuksesan di ajang reli sehingga nama Audi menjadi terkenal karena kecanggihannya di teknologi otomotif.
Nama perusahaan ini berganti lagi tahun 1985 menjadi hanya Audi AG saja karena merek NSU dan Auto Union sudah tidak dipakai lagi.
Tahun 1986, diluncurkan Audi Type 89. Mobil dengan pengembangan terbaru pada masanya ini berhasil mencatat angka penjualan yang baik. Tapi, mobil ini memiliki tenaga mesin yang rendah meskipun eksteriornya sangat baik. Tahun 1987, diluncurkan lagi Audi 90 yang memiliki fitur jauh lebih baik. Pada awal 1990-an, penjualan untuk Audi seri 80 mulai jeblok.

Awal 1990-an, Audi mulai berusaha untuk meningkatkan pangsa pasarnya dan melawan pabrikan Jerman lain yaitu Mercedes-Benz dan BMW. Dimulai dengan peluncuran Audi V8 tahun 1990. Sebenarnya mobil ini hanya pemasangan mesin baru pada Audi 100/200, tapi pengerjaan bodinya juga lebih baik, serta grilnya juga dibuat baru.
Tahun 1991, Audi telah memiliki beberapa jajaran mobil yaitu Audi 80 bermesin 4 silinder, Audi 90 bermesin 5 silinder dan Audi 100, Audi 200 dengan turbocharger, dan Audi V8.
Meskipun mesin 5 silindernya terbilang sukses, tapi pangsa pasar Audi masih beda dengan target mereka. Mereka meluncurkan lagi Audi 100 tahun 1992 dengan mesin V6 2.8L. Mesin ini juga dipasang di Audi 80, sehingga Audi 80 memiliki pilihan mesin beragam, mulai dari 4, 5, sampai 6 silinder dengan berbagai macam style bodi: sedan, Koupé dan Cabriolet.
Mesin 5 silinder dengan turbocharger bertenaga 230 hp (169 kW) merupakan turunan dari mesin yang dipakai di Audi Quattro. Mesin turbocharger ini dipasang di S2 dan S4. Dua model mobil ini merupakan model awal dari mobil-mobil Audi tipe S sekarang yang memiliki performa tinggi.
"Akselerasi Tak Disengaja"
Penjualan Audi jatuh setelah adanya beberapa penarikan kembali (recall) untuk model Audi 5000 buatan tahun 1982-1987.Penarikan ini disebabkan karena adanya beberapa insiden laporan kecelakaan akselerasi tak disengaja yang menyebabkan 6 kematian dan 700 insiden.Pada waktu itu, NHTSA (lembaga lalu lintas Amerika Serikat) melakukan investigasi terhadap 50 model mobil dari 20 merek.[21]
Sebuah laporan oleh "60 Minutes" yang ditayangkan pada 23 November 1986[22] memuat wawancara dengan 6 pengguna pemilik Audi yang mengalami akselerasi tak disengaja ini. Mereka menunjukkan bahwa Audi 5000 ini bermasalah pada pedal remnya ketika ditekan.
Audi sendiri berpendapat kalau masalah itu adalah akibat kesalahan pengemudi (driver error), terutama karena misaplikasi pada pedalnya. Kemudian, National Highway Traffic Safety Administration (NHTSA) akhirnya juga menyimpulkan kalau kasus akselerasi tak disengaja ini disebabkan karena kesalahan pengemudi yang kebingungan mengenai pedal mobil tersebut.
Dengan adanya beberapa pemanggilan kembali ini, Audi melakukan beberapa modifikasi. Mereka menyesuaikan jarak antara pedal gas dan pedal rem untuk model transmisi otomatisnya. Perbaikan berikutnya terhadap 250.000 mobil tahun 1978, Audi menambahkan sebuah perangkat yang mengharuskan pengemudinya menekan pedal rem sebelum memindahkan posisi persneling dari "P" (Park).[20]
Akibatnya, penjualan Audi di Amerika Serikat anjlok dari 74,061 tahun 1985 menjadi tinggal 12,283 unit saja tahun 1991. Penjualannya bahkan bisa dibilang tetap sampai 3 tahun kemudian, dengan harga jual kembali (resale value) yang jatuh.[26] Audi pun menawarkan penambahan garansi dan mengubah nama mobil tersebut menjadi "Audi 100" dan "Audi 200" tahun 1989.
Audi AG Sekarang Ini

Pabrik Audi di Aurangabad, India
Penjualan mobil-mobil Audi tumbuh pesat di tahun 2000-an, dari 653.000 unit pada tahun 2000 menjadi 1.003.000 tahun 2008. Kenaikan penjualan ini terbesar berasal dari Eropa Timur (+19.3%), Afrika (+17.2%) dan Timur Tengah (+58.5%). China, yang belakangan ini menjadi pasar mobil terbesar dunia, menyumbang penjualan 108.000 unit dari 705.000 unit pada kuartal ketiga tahun 2009. Kepopuleran Audi di China disebabkan karena para pejabat China menggunakan Audi sebagai mobil dinas mereka.Akhir 2009, Audi berhasil meraup keuntungan sebesar 1,17 juta euro (1,85 juta dolar AS) sehingga merek ini menyumbang keuntungan besar bagi Grup Volkswagen, di mana merek Volkswagen lain seperti Bentley dan SEAT malah mengalami kerugian.
Audi mempunyai 6 pabrik di seluruh dunia: Ingolstadt, Jerman (sejak 1969); Neckarsulm, Jerman (sejak 1969); Győr, Hungaria; Changchun, China (sejak 1995); Brussels, Belgia (sejak 2007); Aurangabad, India (sejak 2006).
Teknologi
Bodi mobil
Semua mobil yang diproduksi oleh Audi menggunakan galvanis untuk mencegah korosi,sehingga membuat Audi adalah pabrikan otomotif pertama yang melakukan hal itu secara massal. Teknologi ini sendiri sebenarnya ditemukan oleh Porsche sekitar tahun 1975. Teknologi Audi ini sudah terbukti efektif untuk mencegah timbulnya karat. Ketahanan dari bodi-bodi mobil ini sangat luar biasa bahkan melebihi ekspetasi Audi sendiri, sampai-sampai Audi berani memperpanjang garansi untuk korosi dari 10 tahun menjadi 12 tahun.
Bodi aluminium telah digunakan oleh Audi sejak mereka meluncurkan A8 tahun 1994. Mereka menamai teknologi itu Audi Space Frame). Sebelumnya, Audi menguji coba chassis tipe 44 dengan bahan aluminium sebagai uji coba untuk teknik ini.
Penggerak
Jaman dahulu, Audi menolak untuk menggunakan mobil berpenggerak roda belakang karena dipakai oleh kedua rivalnya yaitu Mercedes-Benz dan BMW. Maka, Audi pun lebih suka menggunakan mobil berpenggerak roda depan atau penggerak 4 roda. Kebanyakan dari model mewah Audi yang dijual di pasar Amerika Serikat menggunakan standar penggerak 4 roda (hanya model A4 dan A6 paling bawah yang masih memakai penggerak roda depan), kebalikan dengan Mercedes-Benz dan BMW yang menggunakan 4WD sebagai pilihan/option saja (BMW baru mulai menawarkan tipe 4WD pada seri 7 sejak tahun 2010, sedangkan Audi telah memakai penggerak 4WD di A8-nya dari tahun 1990-an.) Juga untuk semua seri mobil berperforma tingginya, Audi model S dan RS, semua telah menggunakan penggerak 4 roda, tidak sama dengan rivalnya seperti BMW M dan Mercedes-AMG yang hanya menggunakan penggerak roda belakang.
Untuk kebanyakan model-modelnya (diluar A3, A1, dan TT), Audi tidak menggunakan layout mesin melintang yang biasanya banyak ditemukan pada mobil-mobil ekonomis, karena layout seperti itu membatasi tipe dan tenaga mesin yang bisa dipasang. Selain itu, untuk memasang mesin-mesin berperforma tinggi (seperti pemasangan mesin V8 di Audi S4 dan Audi RS4), Audi biasanya mengembangkannya dengan model mesin depan longitudinal. Dengan mesin seperti ini, pemasangan penggerak 4 roda akan lebih mudah serta akan menyamakan distribusi berat mobil depan:belakang 50:50 sehingga ideal.
Space frame
Menggantikan Audi V8 tahun 1994, Audi A8 memulai debutnya dengan menggunakan space frame aluminium ("Audi Space Frame") yang dapat mereduksi berat mobil dan memperbaiki kekakuan puntiran (torsion rigidity) jika dibandingkan dengan frame baja biasa. Tapi, pengurangan bobot mobil ini kadang digantikan dengan bobot dari sistem penggerak 4 roda milik Audi yaitu quattro. Meski begitu, Audi A8 adalah mobil paling ringan di antara semua mobil penggerak 4 roda di segmen mobil full-size. Mobil ini juga adalah mobil paling irit di kelasnya.
Kerugian dari penggunaan frame aluminium ini adalah frame ini membutuhkan biaya luar biasa besar jika terjadi kerusakan, dan membutuhkan bengkel bodi khusus aluminium.
Audi A2, Audi TT dan Audi R8 juga menggunakan teknologi Audi Space Frame.
Audi A2
Audi A2 adalah sebuah mobil supermini yang futuristik. Mobil ini banyak memuat fitur baru seperti penggunaan space frame untuk pertama kalinya. Audi juga memperbaiki teknologi TDI mereka dengan menggunakan mesin 3 silinder. Audi A2 juga memiliki aerodinamika dan desain yang sangat baik, sudah dicoba di terowongan udara. Tapi mobil ini dikritisi karena harganya mahal dan penjualannya pun tidak begitu sukses bila dibandingkannya dengan kompetitornya, Mercedes-Benz A-Class. Audi A2 akhirnya distop tahun 2005 dan Audi memutuskan untuk tidak melanjutkan produk ini lagi.
Audi A4
Perubahan besar terjadi pada tahun 1995 ketika Audi A4 menggantikan Audi 80. Penamaan baru dari Audi ini juga berlaku pada Audi 100 yang namanya berganti menjadi Audi A6. Selain itu, Audi S4 lama menjadi S6 dan Audi S4 baru diperkenalkan dengan bodi baru, serta Audi S2 diberhentikan produksinya (discontinued). Selain itu dipernalkan juga A3 bermodel hatchback pada tahun 1996, serta koupe dan roadster Audi TT coupé pada tahun 1998.
Direct-Shift Gearbox
Volkswagen memperkenalkan Direct-Shift Gearbox (DSG), sebuah tipe dari transmisi dual clutch. Transmisi ini merupakan versi "otomatis" dari transmisi semi-otomatis, yang bisa dijalankan seperti transmisi otomatis konvensional. Transmisi ini digunakan di Volkswagen Golf, Audi A3 dan TT.

Fuel Stratified Injection
Model-model Audi terbaru seperti A3, A4, A6 dan A8 sudah dilengkapi dengan mesin berteknologi Fuel Stratified Injection (FSI). Mesin teknologi terbaru ini diklaim dapat mengkonsumsi bahan bakar lebih sedikit.

Mesin V8 FSI
Teknologi elektrik
Audi berencana untuk beraliansi dengan perusahaan elektronik Jepang Sanyo untuk mengembangkan proyek mobil hybrid elektrik untuk Grup Volkswagen. Aliansi ini akan menggunakan baterai dan berbagai komponen elektrik lainnya dari Sanyo yang akan dipakai di mobil masa depan Grup Volkswagen.
Mobil hybrid elektrik itu di antaranya:
Lampu LED terang hari (LED daytime running lights atau DRL)

Lampu DRL pada Audi A4 tipe B8
Dimulai tahun 2006, Audi telah mengimplementasikan teknologi lampu LED terang hari di produk-produk mereka. Bentuk lampu mereka yang unik telah menjadi sebuah merek dagang. Lampu ini pertama kali diterapkan di Audi S6, dan setelah itu juga dipakai di model-model lainnya.
Multi Media Interface
Audi mulai mengembangkan sebuah sistem kontrol yang terkomputerisasi yang dinamakan Multi Media Interface (MMI). Sistem ini dibuat karena mengkritisi sistem kontrol iDrive yang dimiliki BMW. Sistem ini terdiri dari sebuah knob kontrol yang dapat berputar dengan tombol-tombol yang bisa mengontrol selruh sistem hiburan (in-car entertainment) di mobil termasuk navigasi satelit, pemanas dan ventilasi, dan sistem lain yang hasilnya akan ditampilkan di layar. MMI ini dilaporkan telah memberikan banyak perbaikan pada sistem iDrive milik BMW tersebut, meskipun BMW sendiri mengklaim mereka telah menyempurnakan sistem iDrive mereka itu.
MMI diterima dengan respon yang baik, dan penggunaannya tidak terlalu ribet karena mengontrol semua tombolnya lewat knob tersebut. Untuk beberapa tombol penting seperti radio atau telepon, MMI langsung menyediakan tombol akses langsung. Layarnya terletak di tengah dashboard.
Mesin
Di tahun 1980an, Audi bersama Volvo merupakan pelopor dari mesin-mesin 5 silinder segaris berkapasitas 2.1L dan 2.2L. Mesin-mesin 5 silinder ini muncul sebagai alternatif dari mesin-mesin 6 silinder yang banyak pada masa itu. Selain itu, Audi juga menggunakan mesin 5 silindernya tidak hanya untuk model komersial, melainkan juga untuk mobil-mobil reli mereka. Mesin 5 silinder 2.1L milik mereka banyak digunakan di reli tahun 1980-an, tenaganya bisa mencapai 400 dk setelah dimodifikasi.

Untuk versi sedan paling mewahnya, Audi A8L W12 Audi memilih untuk menggunakan Mesin W12 milik Grup Volkswagen daripada memakai Mesin V12 yang biasanya dipakai oleh kedua rivalnya Mercedes-Benz dan BMW. Konfigurasi dari mesin W12 ini dibuat dengan membentuk 2 sudut lancip imaginer sebesar 15° dari Mesin VR6 pada sudut 72°, dan sudut lancip pada tiap set silindernya hanya membutuhkan 2 overhead camshaft untuk menjalankan setiap pasang dari cabang silinder, jadi totalnya hanya dibutuhkan 4 buah.[37] Keuntungan dari mesin W12 ini adalah bentuknya kompak sehingga Audi bisa membuat sedan 12 silinder dengan penggerak 4 roda. Mesin-mesin V12 biasa hanya bisa memakai penggerak roda belakang dikarenakan tidak ada lagi ruang yang tersisa untuk diferensial dan berbagai komponen penggerak untuk roda depannya. Nyatanya, Audi A8L W12 yang memakai mesin W12 ini ukurannya malah sedikit lebih kecil daripada Audi A8 biasa yang memakai mesin 4.2L. Audi A8 tahun 2011 diluncurkan dengan mesin W12 terbaru berkapasitas 6.3L dengan tenaga mencapai 500 PS.

perusahaan multi internasional

Senin, 07 Mei 2012

CONTOH WESEL DAGANG





Surat wesel adalah ”Syarat yang memuat kata ”wesel” di dalamnya, ditanggali dan di tandatangani di suatu tempat, dalam mana penerbitannya memberi perintah tidak bersyata kepada tersangkut untuk membayar sejumlah uang pada hari bayar kepada orang yang ditunjuk oleh penerbit atau penggantinya di suatu tempat tertentu”.Dalam perundang-undangan tidak terdapat perumusan atau definisi tentang surat wesel. Tetapi dalam Pasal 100 KUHD dimuat syarat-syarat formal sepucuk surat wesel. Dasar hukum wesel diatur dalam Pasal 100 sampai dengan Pasal 173 KUH Dagang, yang menentukan syarat formal bagi suatu wesel. Di dalam KUH Dagang tidak ditemukan definisi wesel, tersirat dalam Pasal 100 KUH Dagang pada persyaratan formal wesel

Personil Wesel
Dalam hukum wesel, dikenal beberapa personil wesel, yaitu orang-orang yang terlibat dalam lalu lintas pembayaran dengan surat wesel.
1.                  Penerbit, adalah terjemahan dari istilah aslinya dalam bahasa Belanda trekker, bahasa Inggrisnya drawee, yaitu orang yang mengeluarkan surat wesel.
2.                  Tersangkut, adalah terjemahan dari istilah aslinya dalam bahasa Belanda betrokkene, yaitu orang diberi perintah tanpa syarat untuk membayar.
3.                  Akseptan, adalah terjemahan dari istilah aslinya dalam bahasa Belanda acceptant, bahasa Inggrisnya acceptor, yaitu tersangkut yang telah menyetujui untuk membayar surat wesel pada hari bayar, dengan memberikan tanga tangannya.
4.                  Pemegang Pertama. Adalah terjemahan dari istilah aslinya dalam bahasa Belanda nomor, bahasa Inggrisnya holder, yaitu orang yang menerima surat wesel pertama kali dari penerbit.
5.                  Pengganti, adalah terjemahan dari istilah aslinya dalam bahasa Belanda geendosseerde, bahasa Inggrisnya indorsee, yaitu orang yang menerima peralihan surat wesel dari pemegang sebelumnya.
6.                  Endosan, berasal dari istilah aslinya dalam bahasa Belanda endosant, bahasa Inggrisnya indorser, yaitu orang yang memperalihkan surat wesel kepada pemegang berikutnya.
Syarat-Syarat Formal Surat Wesel
Suatu surat wesel harus memenuhi syarat-syarat yang telah ditentukan oleh undang-undang, yang disebut syarat-syarat formal. Menurut ketentuan pasal 100 KUHD, setiap surat wesel harus memuat syarat-syarat formal sebagai berikut:
1.                  istilah “wesel” harus dimuat dalam teksnya sendiri dan disebutkan dalam bahasa surat itu ditulis.
2.                  Perintah tidak bersyarat untuk membayar sejumlah uang tertentu.
3.                  Nama orang yang harus membayarnya (tersangkut).
4.                  Penetapan hari bayar (hari jatuh).
5.                  Penetapan tempat di mana pembayaran harus dilakukan.
6.                  Nama orang kepada siapa atau penggantinya pembayaran harus dilakukan.
7.                  Tanggal dan tempat surat wesel diterbitkan.
8.                  Tanda tangan orang yang menerbitkan.

PROSES PEMBAYARAN LETTER OF CREDIT

SISTEM PEMBAYARAN LETTER OF CREDIT 




ABSTRAK CV Nova Furniture adalah salah satu perusahaan ekspor furniture yang bergerak dalam bidang meubel. Perusahaan ini telah banyak melakukan kegiatan ekspor barang bidang furniture ke berbagai negara di luar negeri, khususnya di negara Eropa seperti Denmark, New Zealand, Perancis, Amerika, Belanda. Dalam melakukan kegiatan transaksi ekspor barang ke luar negeri khususnya negara-negara Eropa mengguanakan sistem pembayaran Letter of Credit yang telah disepakati antara kedua belah pihak yaitu antara eksportir dan importir yang terlibat dalam kegiatan transaksi ekspor ke negara Eropa. Tujuan dari penulisan Tugas Akhir ini untuk memperoleh pemahaman tentang sistem pembayaran transaksi ekspor yang menggunakan Letter of Credit pada CV Nova Furniture Boyolali serta mengetahui kebaikan dan kelemahan menggunakan sistem pembayaran Letter of Credit, serta solusi atau jalan keluar yang ditempuh bila ada kendala dalam penggunaan L/C sebagai alat pembayaran ekspor. Metode penelitian yang digunakan adalah studi kasus, yaitu mengambil satu obyek tertentu untuk dianalisa secara mendalam dengan memfokuskan pada satu masalah. Data yang digunakan adalah data primer dan data sekunder. Data primer diperoleh melalui wawancara dengan pihak CV Nova Furniture dalam hal ini bagian sistem pembayarannya, sedangakan data sekunder diperoleh dari buku referensi yang relevan dengan masalah penelitian. Hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa alat pembayaran L/C digunakan sebagai jaminan pembayaran transaksi ekspor. Dalam penggunaan alat pembayaran L/C harus dilengkapi dengan dokumen-dokumen antara lain: Bill of Lading, Invoice, Consular Invoice, Shipping Instraction. Permasalahan yang sering terjadi dalam transaksi ekspor adalah kurangnya pemahaman oleh pihak-pihak yang terlibat tentang sistem pembayaran L/C. Saran yang dapat diajukan adalah semua pihak yang terkait baik eksportir maupun importir dengan pelaksanaan L/C hendaknya menjalankan peran dan fungsinya secara baik sesuai dengan hukum dan peraturan yang berlaku serta memahami ketentuan yang ada dalam perdagangan internasional.
SISTEM PEMBAYARAN LETTER OF CREDIT


 ABSTRAK CV Nova Furniture adalah salah satu perusahaan ekspor furniture yang bergerak dalam bidang meubel. Perusahaan ini telah banyak melakukan kegiatan ekspor barang bidang furniture ke berbagai negara di luar negeri, khususnya di negara Eropa seperti Denmark, New Zealand, Perancis, Amerika, Belanda. Dalam melakukan kegiatan transaksi ekspor barang ke luar negeri khususnya negara-negara Eropa mengguanakan sistem pembayaran Letter of Credit yang telah disepakati antara kedua belah pihak yaitu antara eksportir dan importir yang terlibat dalam kegiatan transaksi ekspor ke negara Eropa. Tujuan dari penulisan Tugas Akhir ini untuk memperoleh pemahaman tentang sistem pembayaran transaksi ekspor yang menggunakan Letter of Credit pada CV Nova Furniture Boyolali serta mengetahui kebaikan dan kelemahan menggunakan sistem pembayaran Letter of Credit, serta solusi atau jalan keluar yang ditempuh bila ada kendala dalam penggunaan L/C sebagai alat pembayaran ekspor. Metode penelitian yang digunakan adalah studi kasus, yaitu mengambil satu obyek tertentu untuk dianalisa secara mendalam dengan memfokuskan pada satu masalah. Data yang digunakan adalah data primer dan data sekunder. Data primer diperoleh melalui wawancara dengan pihak CV Nova Furniture dalam hal ini bagian sistem pembayarannya, sedangakan data sekunder diperoleh dari buku referensi yang relevan dengan masalah penelitian. Hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa alat pembayaran L/C digunakan sebagai jaminan pembayaran transaksi ekspor. Dalam penggunaan alat pembayaran L/C harus dilengkapi dengan dokumen-dokumen antara lain: Bill of Lading, Invoice, Consular Invoice, Shipping Instraction. Permasalahan yang sering terjadi dalam transaksi ekspor adalah kurangnya pemahaman oleh pihak-pihak yang terlibat tentang sistem pembayaran L/C. Saran yang dapat diajukan adalah semua pihak yang terkait baik eksportir maupun importir dengan pelaksanaan L/C hendaknya menjalankan peran dan fungsinya secara baik sesuai dengan hukum dan peraturan yang berlaku serta memahami ketentuan yang ada dalam perdagangan internasional.

Hubunga Bilateral Indonesia dengan Negara Lain


Hubungan Indonesia dan Negara-negara lain: Australia dan Timur tengah

HUBUNGAN INDONESIA DAN AUSTRALIA
Fokus pembahasan seputar hubungan Indonesia-Australia dipaparkan sepanjang pemerintahan Soekarno dan Soeharto. Isu hubungan diplomatik Indonesia dan Australia selalu dilatarbelakangi oleh kepentingan di Irian barat dan Timor timur.
PERIODE SOEKARNO
Hubungan antara Indonesia dengan Australia pada tahun 1945-1950 sangat kuat. Pada saat itu, Australia mendukung gerakan kemerdekaan Indonesia. Pada awal usaha mendapatkan pengakuan kedaulatan dari Belanda melalui perundingan yang dirangkum dalam perwakilan tiga negara, Indonesia menunjuk Australia sebagai mediator dalam perundingan.
Perjalanan hubungan Indonesia dan Australia pertama kali ditandai pada masa perjuangan Indonesia untuk kemerdekaan. Pada masa kepresidenan Soekarno, Indonesia menjalankan politik luar negeri yang militan dalam usaha menggalakkan kampanye pembebasan Irian Barat, hubungan diplomatik keduanya pun dinilai dingin (Suryadinata, 1998,p115.).
Pada tahun 1949, terjadi pengakuan kedaulatan Indonesia oleh Belanda. Akan tetapi muncul isu Belanda tidak berniat melepaskan Irian Barat. Sebaliknya Soekarno bersikeras ingin menjadikan Irian Barat masuk dalam Indonesia karena Irian Barat bekas jajahan Belanda. Pada poin ini, hubungan antara Indonesia dengan Australia merenggang karena Australia mendukung Belanda. Australia dibawah pemerintahan Menzies Australia melihat tindakan Soekarno sebagai ekspansi teritori yang dikawatirkan menjadi ancaman keamanan Australia (Suryadinata, 1998).
Pada tahun 1961, sikap Australia terhadap Indonesia perlahan-lahan melunak. Bila terjadi perjanjian yang damai dan sah antara Indonesia dengan belanda tentang masa depan Irian Barat, maka Australia akan menyetujui keputusan tersebut. Kemudian pada tahun itu pula menteri luar negeri Australia Barwick menyatakan bahwa tidak ada alasan bagi Australia untuk takut terhadap klaim Indonesia atas irian Barat. Barwick juga mengubah haluan Australia yang kemudian mendukung Indonesia asal semua berjalan dengan damai. Menzies sepakat dengan Barwick dan setuju atas kontrol Indonesia terhadap Irian Barat walaupun banyak dikritk oleh opini publik. Pertimbangan Australia mendukung Indonesia adalah karena kerjasama dengan Indonesia akan lebih menguntungkan dari pada dengan Belanda, Australia ingin menghindari peperangan dengan negara tetangga terdekat dan mispersepsi tentang Indonesia.
PERIODE SOEHARTO
Pada masa pemerintahan Soeharto, yang menjadi isu dalam hubungan diplomatik Indonesia-Australia adalah Timor timur (pemberontakan Fretilin) 1974-1982, peristiwa D Jenkins yang berbuntut pertentangan dengan pers Australia 1976-1986, Timor timur II 1991,
Hubungan diplomatik sepanjang 1974 antara pemerintahan Soeharto dan PM Australia, Gough Whitlam tercermin dalam sikap kooperatif Australia manakala Timor timur hendak diintegrasikan ke dalam wilayah Indonesia secara damai (Suryadinata, 1998, p.116). akan tetapi, tindakan Indonesia yang melakukan pendudukan agresif di Timor timur dikritik publik Australia dan akhirnya pemerintah Australia pun mengkritiknya di PBB. Kritik ini diyakini muncul akibat aksi invasif Indonesia yang mengakibatkan lima wartawan Australia tewas. Sejak saat itu, pers Australia gencar melakukan pemberitaan yang konfrontatif dan kritis terhadap Indonesia.
Ketika kursi perdana menteri dipegang oleh Malcolm Fraser pada 1976. Indonesia masih kerap mendapatkan kritik tajam dari Australia, antara lain Fraser dan James Dunn, mantan konsul Australia di Timor Timur 1977. Pada 1982, hubungan diplomatik Indonesia-Australia mulai meninggalkan isu Timor Timur, ketika PM Australia, Anthony Street mengajak masyarakat Internasional untuk mulai mengesampingkan isu tersebut (Suryadinata, 1998, 118).
Konflik pers Australia menyusul pemberitaan oleh D Jenkins (1986) mengakibatkan pembekuan hubungan Indonesia dengan Australia secara sepihak (Suryadinata, 1998, p. 118-120). Hal itu dianggap oleh pemerintah Indonesia sebagai cermin dari kemarahan dari rasa tersinggung terhadap pemberitaan yang mengungkap jaringan usaha Soeharto, singkat kata nepotisme. konflik Indonesia melawan publik pers Australia semata-mata merupakan mispersepsi yang terjadi seputar arti dan implementasi demokrasi masing-masing, yang mana demokrasi di Australia mengijinkan seluas-luasnya kebebasan pers dan berpendapat di daerahnya, sementara saat itu pemerintah Indonesia masih tertutup dari keterbukaan yang demikian yang menjadi karakter era Soeharto yang terlalu proteksionis.
Masa Menteri Luar Negeri Ali Alatas, menggunakan pendekatan personal antara Alatas dengan PM Australia Gareth Evans, hubungan bilateral kedua negara pun melunak kembali hingga isu Timor Timur untuk kedua kalinya muncul ke permukaan di tahun 1991 (Suryadinata, 1998, p.122). Meskipun isu Timor timur tidak menghilang, peran PM Australia Paul Keating dalam menjalin hubungan diplomatik dengan Indonesia dinilai sangat akomodatif dan kooperatif, lebih singkat Suryadinata (1998) menjelaskan bahwa semata-mata dikarenakan adanya pergeseran kepentingan Australia terhadap isu pembangunan blok kepentingan ekonomi non-China yang memposisikan Indonesia sejajar dengan Vietnam dan Australia untuk tidak terlibat ke dalam orbit China. Kemudian hubungan baik Indonesia-Australia dengan berhasil diimplementasikan ke dalam penandatangan perjanjian seputar penghormatan keamanan kemerdekaan politik dan keutuhan wilayah kedua negara (Suryadinata, 1998, p.124).
Kerjasama Bilateral Indonesia dan Australia
Sebelumnya telah diulas secara historis ikatan hubungan diplomatik bilateral antarkedua negara. implementasi hubungan diplomatik yang ideal adalah terjalinnya suatu kerjasama berdasarkan mutual understanding antara lain meliputi berbagai aspek sebagai berikut: (1) Standarisasi melalui MoU Concerning cooperation on Standards and Conformance.(2) Perdagangan, direfleksikan melalui Agreement, A trade agreement between the republic of Indonesia and the Commonwealth of Australia nota persetujuan dagang no agenda 346. (3) kultur melalui Cultural Agreement between the Government of republic Indonesia and the government of Commonwealth of Australia. (4) Ekonomi melalui Exchange of Letters. (5)Wilayah melalui Establishing Certain Seabed Boundaries dll. (dephan.gov.id)
HUBUNGAN INDONESIA-TIMUR TENGAH
Islam dan Politik luar negeri. Seringkali hubungan bilateral Indonesia dan Timur tengah disinergikan dengan adanya atribut nasional Indonesia yang demografi penduduknya terdiri dari mayoritas muslim. Susunan demografi tersebut akankah membentuk opini publik domestik yang cenderung condong kepada simpati terhadap konflik-konflik di Timur tengah, seperti Palestina-Israel, Lebanon? Seringkali pula observasi politik luar negeri Indonesia dan Timur tengah jatuh dalam kerangka kepentingan domestik dan situasi domestik. Berbagai tulisan telah dihasilkan oleh Bantarto Bandoro (1994) dan Leo Suryadinata (1998) dapat menjadi referensi yang berguna untuk membantu menjawab seputar isu dan hubungan diplomatik Indonesia dan Timur tengah dalam kerangka politik luar negeri, baik era Soekarno dan Soeharto secara singkat di bawah ini.
Fokus pembahasan seputar hubungan Indonesia-Timur dipaparkan sepanjang pemerintahan Soekarno dan Soeharto. Hubungan diplomatik Indonesia dan Timor tengah menurut Suryadinata (1998) secara garis besar dilatarbelakangi oleh isu seputar Organisasi Pembebasan Palestina, Organisasi Konferensi Islam, invasi Irak ke Kuwait dan isu Bosnia.
PERIODE SOEHARTO
Pernyataan Soeharto (1987) yang menegaskan posisi Indonesia dalam memandang konflik Palestina antara lain menilai keadilan mesti diberikan kepada rakyat Palestina. Hubungan Indonesia-Palestina ditandai oleh pembukaan kedutaan Palestina di Jakarta sesuai dengan permintaan Yasser Arafat ketika digelar Konferensi Non-Blok di Beograd, Yugoslavia (1989).
Hubungan bilateral Indonesia-Irak lebih banyak dilandasi oleh sikap netral terhadap berbagai isu internasional berhubungan langsung dengan Irak antara lain invasi Irak ke Kuwait (1991). Posisi Irak sebagai anggota Non-Blok menjadi pertimbangan penting bagi Indonesia untuk menerapkan posisi netral, sekaligus mencerminkan kapabilitas Indonesia memainkan peran yang lebih independen sebagai reaksi terhadap adanya embargo ekonomi dan resolusi PBB (Suryadinata, 1998, p.211).
Berbeda dengan Irak, politik luar negeri Indonesia dalam menjaga hubungan diplomatik dengan Iran terletak pada soal keamanan. Hubungan bilateral Indonesia-Iran terjalin dengan baik semasa Iran dipimpin oleh Syeh Iran. Akan tetapi, revolusi Iran pada 1979 mengakibatkan Indonesia bersikap hati-hati.
Hubungan Indonesia dengan Saudi Arabia selama ini sangat banyak ditentukan oleh bagaimana Saudi Arabia memberikan feedback layanan haji bagi jemaah Indonesia. Insiden Mina (1990) yang mengakibatkan 700 jemaah haji Indonesia meninggal yang tidak ditanggapi oleh pemerintah Saudi secara intensif, mengakibatkan Indonesia cenderung mengambil langkah hati-hati.
Secara singkat dalam tulisannya tentang hubungan Indonesia denga Timur Tengah, Suryadinata (1998,p.207) hubungan Indonesia dan Libia pada era orde baru tidak terlalu akrab karena anggapan militer Indonesia yang percaya bahwa Libia mendukung gerakan separatis Islam di Aceh.
Isu yang paling monumental sepanjang sejarah pergolakan politik di Timur tengah adalah meletusnya perang Teluk I & II, perang Irak, embargo udara oleh Pemerintah Saudi, konflik Palestina-Israel. Sikap Indonesia terhadap peristiwa tersebut di atas adalah tetap menjaga langkahnya dalam posisi netral dan hati-hati. Ini selaras yang diungkapkan oleh Menlu Ali Alatas ketika dikonfirmasi mengenai Perang teluk I, sebagai contoh, ia mengungkapkan bahwa Indonesia tidak dapat masuk ke dalam krisis teluk secara tiba-tiba dan menwarkan solusi terhadap konflik tersebut. (konsekuensinya) Indonesia akan terpental ke luar, sebagaimana ia mengilustrasikan bahwa indonesia juga tidak menginginkan Aljazair dan Mesri masuk ke dalam isu Kamboja secara tiba-tiba (1991).
Implementasi kerjasama Indonesia dan negara Timur tengah secara lengkap dapat terlihat melalui penandatangan perjanjian dan serangakaian MoU yang memuat keseluruhan aspek meliputi ekonomi, wilayah, perdagangan, kebudayaan, teknis dan lain-lain seperti yang tertera di departemen pertahanan dan keamanan Indonesia (www.dephan.gov.id). Secara asosiatif, implementasi kerjasaman Indoenesia dapat dilihat dari partisipasinya dalam berbagai institusi internasional seperti OKI (1969) yang bertujuan untuk meningkatkan solidaritas Islam di antara negara anggota, serta mengkoordiasikan kerjasama antarnegara anggota, mendukung perdamaina dan keamanan internasional dan melindungi tempat-tempat suci Islam serta membantuk pembentukan negara palestina yang merdeka dan berdaulat (www.deplu.go.id); dan G15 sebagai wadah kerjasama ekonomi dan pembangunan negara-negara berkembang yang terdiri dari Mesir, Indonesia, Iran, Aljazair, Aegentina, Braxil, Chile, Kolombia, India, Jamaika, Kenya, Malaysia, Meksiko, Nigeria, Peru, Senengal, Sri Lanka, Venezuela dan Zimbabwe (www.deplu.go.id); dan D-8.
ANALISIS
Kebijakan suatu negara pada umumnya merupakan reaksi yang terjadi akibat interaksi antarnegara mengenai satu peristiwa tertentu yang terjadi. Berbagai perkembangan tipikal bisa menimbulkan perubahan arah kebijakan (Bandoro, 1994). Sebagaimana yang telah diuraikan di atas, kita belajar dari fluktuasi hubungan Indonesia dan Australia yang mana setiap pemegang pemerintahan tertinggi membawa karakteristik arah diplomasi politik yang berbeda. Sewaktu-waktu jika menteri luar negeri Indonesia dan presidennya sanggup berinteraksi secara kooperatif dengan perdana menteri Australia, maka terdapat kecenderungan keduanya bisa meredakan ketegangan bahkan sebaliknya menciptakan kerjasama dan kesepakatan pada akhirnya. Begitu pula sebaliknya, jika kedua pihak membawa sikap ofensif dan saling kritik tanpa adanya niat untuk menjalin kepahamanan, maka yang terjadi adalah ketegangan. Peristiwa dan isu domestik berpotensi besar mengundang kritikan dari masyarakat internasional, tentu saja itu dikarenakan Indonesia selalu berdekatan dengan negara lain. Selain itu, belajar dari hubungan Indonesia dan Australia, kita mengetahui bahwa pers (media dan informasi) bisa bertransformasi menjadi batu sandungan hubungan bilateral. Oleh karena itu, penting sekali bagi decision maker untuk mempelajari isu pers secara lebih intensif sebelum membekukan secara sepihak hubungan diplomatik. Dari berbagai pergolakan politik di timur tengah, kita bisa mengambil kesimpulan bahwa di tengah konflik internal suatu negara, asas non-intervensi mesti diletakkan sebagai prioritas fundamental membangun sikap hati-hati agar tidak dengan mudah terperosok pada konflik yang sudah terjadi. Selain itu, posisi yang mungkin dimiliki oleh negara lain terhadap indonesia juga menjadi pertimbangan utama menentukan sikap politik agar tidak memperparah kondisi dan situasi, misalnya perang teluk I yang melibatkan Irak; Indonesia mesti mempertimbangkan posisi dan partisipasi politik Irak sebagai sesama gerakan Non-Blok.

Contoh Letter Of Credit


CONTOH LETTER OF CREDIT

Bila eksportir akan melakukan ekspor biasanya dihadapkan dengan cara pembayaran yang akan dihadapi. Namun tergantung dari negosiasi antara eksportir dengan importir untuk mendapatkan cara pembayaran yang diinginkan. Makanya eksportir akan mendapat cara pembayaran yang  lebih menguntungkan namun aman atau berpotensi terjadi risiko dengan tingkat keamanannya yang minim itu akan kembali kepada bagaimana hasil perundingan menghasilkan point-point yang memihak padanya.
Pembayaran dengan non L/C atau dengan L/C akan bersinggungan dengan tingkat kompleksitas penanganan dokumen dan biaya yang akan dikeluarkan. Sedangkan kalau cara-cara pembayarannya itu menggunakan mekanisme presentasi dokumen melalui bank atau di luar bank, maka pilihan cara pembayaran itu sudah bukan saja menyangkut biaya, kompleksitas penanganan dokumen tetapi juga tingkat keamanan dan fasilitas yang bisa diakses eksportir dalam memperoleh pembiayaan.
Di artikel lain telah disinggung tentang beberapa macam cara pembayaran ekspor impor dan bagaimana tingkat kompleksitas penanganan dokumen, biaya, keamanan, dan akses fasilitas pembiayaan itu diuraikan. 
Contoh-contoh L/C:
Contoh-contoh Dokumen:
2. Invoice